⁠Pentingnya Skrining Kanker Serviks (Sari Kanker Leher Rahim)
Written by Juwita Redha Alliya Okilaputri Dwiyanti
“Deteksi dini merupakan langkah kecil yang dapat memberikan
perlindungan besar bagi kesehatan perempuan.”
Kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan salah satu masalah kesehatan yang
masih perlu mendapatkan perhatian, terutama pada perempuan. Kanker serviks hampir seluruhnya
berkaitan dengan infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama infeksi HPV berisiko tinggi
yang menetap dalam tubuh. Sebagian besar infeksi HPV dapat hilang dengan sendirinya, tetapi
infeksi yang menetap dapat menyebabkan perubahan pada sel leher rahim dan berkembang
menjadi kanker. Pada tahap awal, kondisi tersebut sering tidak menimbulkan gejala yang jelas
sehingga pemeriksaan sejak dini menjadi penting (WHO, 2024).
Skrining kanker serviks merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk menemukan
perubahan atau kelainan pada leher rahim sejak tahap awal. Pemeriksaan ini tidak hanya bertujuan
menemukan kanker, tetapi juga mendeteksi kondisi prakanker yang masih dapat ditangani sebelum
berkembang menjadi kanker. Beberapa metode yang digunakan dalam skrining antara lain
pemeriksaan IVA, Pap smear, dan tes DNA HPV. WHO menjelaskan bahwa skrining dan
penanganan lesi prakanker merupakan salah satu bagian penting dalam pencegahan kanker serviks
(WHO, 2026).
Skrining menjadi semakin penting karena perubahan prakanker pada leher rahim dapat
ditemukan sebelum seseorang mengalami gejala. Apabila kelainan ditemukan lebih awal, tenaga
kesehatan dapat memberikan pemeriksaan lanjutan dan penanganan yang sesuai. Dengan
demikian, skrining dapat membantu mencegah keterlambatan diagnosis dan mengurangi
kemungkinan penyakit berkembang ke tahap yang lebih berat. WHO juga merekomendasikan
peningkatan cakupan skrining menggunakan pemeriksaan dengan kinerja tinggi, terutama tes
berbasis HPV (WHO, 2026).
Di Indonesia, upaya deteksi dini kanker serviks terus dikembangkan untuk meningkatkan
akses masyarakat terhadap pemeriksaan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun
2026 mengintegrasikan skrining kanker leher rahim ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis
(CKG). Pemeriksaan DNA HPV juga mulai diperluas, termasuk melalui metode self-
sampling atau pengambilan sampel secara mandiri. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan
partisipasi perempuan dalam skrining serta mengurangi keterlambatan dalam menemukan dan
menangani lesi prakanker (Kementerian Kesehatan RI, 2026).
Selain melakukan skrining, pencegahan kanker serviks dapat dilakukan melalui vaksinasi
HPV. Vaksinasi bertujuan mencegah infeksi HPV yang dapat menyebabkan kanker. Namun,
vaksinasi tidak menggantikan pemeriksaan skrining karena vaksin tidak melindungi terhadap
seluruh jenis HPV berisiko tinggi. Oleh karena itu, vaksinasi dan skrining perlu dilakukan sebagai
bagian dari upaya pencegahan kanker serviks secara menyeluruh (WHO, 2024).
Peningkatan pengetahuan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pencegahan
kanker serviks. Masih adanya rasa takut, malu, kurangnya informasi, atau anggapan bahwa
pemeriksaan hanya diperlukan ketika muncul gejala dapat menjadi hambatan dalam melakukan
skrining. Oleh karena itu, edukasi kesehatan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui
puskesmas, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, media sosial, dan lingkungan masyarakat.
Edukasi yang mudah dipahami diharapkan dapat meningkatkan kesadaran perempuan mengenai
manfaat skrining dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi.
Pada akhirnya, skrining kanker serviks merupakan salah satu langkah penting dalam
menjaga kesehatan perempuan. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan perubahan
pada leher rahim sebelum berkembang menjadi kanker sehingga penanganan dapat dilakukan lebih
cepat. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa skrining bukan hanya dilakukan ketika
muncul gejala, tetapi merupakan bagian dari upaya pencegahan. Dengan menggabungkan
vaksinasi HPV, skrining secara berkala, edukasi kesehatan, dan penanganan yang tepat,
pencegahan kanker serviks dapat dilakukan secara lebih optimal (WHO, 2026).
Referensi:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026).!Skrining Kanker Leher Rahim Terintegrasi
Program CKG, Pemerintah Perluas Akses DNA HPV dan Self-Sampling.
https://www.kemkes.go.id/id/skrining-kanker-leher-rahim-terintegrasi-program-ckg-
pemerintah-perluas-akses-dna-hpv-dan-self-sampling
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024).!Gak Perlu Takut, Yuk Deteksi Dini Kanker
Serviks. https://ayosehat.kemkes.go.id/deteksi-kanker-serviks
World Health Organization (WHO). (2026).!Screening for cervical cancer.
https://www.who.int/activities/screening-for-cervical-cancer
World Health Organization (WHO). (2026).!Evidence-informed guidance for the implementation
of HPV-based cervical cancer screening programmes.
https://www.who.int/publications/b/83466
World Health Organization (WHO). (2024).!Human papillomavirus and cancer.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/human-papilloma-virus-and-cancer